Arabic  Chinese  Deutsch  English  French  Russian  Spanish 

 ©1986, 1990 & 2002 John Petroff.  Translation 2005 Roy Sukamto

Bab 6:

SIKLUS BISNIS

 

PENDAHULUAN
Bahasan topik bab ditujukan untuk mempelajari sifat-sifat, penyebab-penyebab dan karakterisitik dari dua masalah ekonomi yang besar yaitu: masa-masa pengangguran yang parah dan masa-masa terjadinya inflasi.

SIKLUS BISNIS
Siklus bisnis adalah suatu deretan masa resesi dan masa kemakmuran yang berulang-ulang dengan teratur dan yang meluas ke mana-mana.  Siklus siklus bisnis ini harus dibedakan dari variasi musiman (berkurangnya penjualan baju hangat pada musim panas) dan kecenderungan (trend) sekular (terutama yang berhubungan dengan populasi seperti ledakan kelahiran bayi). Tahapan-tahaan dari siklus bisnis ini adalah tahapan kulminasi, kontraksi, resesi, nadir, perbaikan, dan ekspansi.

Adanya siklus bisnis ini paling mudah dilihat dari jumlah orang yang diberhentikan dari pekerjaannya dan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan. Pada masa-masa puncak aktivitas ekonomi hal seperti ini sangat jarang terjadi. Tapi dalam masa resesi, hal ini merupakan suatu hal yang sangat umum.

RESESI
Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang meluas ke mana-mana. Penurunan semacam ini biasanya menyebabkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Suatu resesi yang serius biasanya disebut depresi. Penyebab resesi berkaitan dengan kelebihan persedian barang, penurunan konsumsi (misalnya disebabkan oleh rasa takut akan keadaan masa depan), kurangnya inovasi dan pembentukan modal baru, serta goncangan acak.

Resesi terburuk terjadi di tahun 1930-an. Kurang lebih satu diantara 4 orang (atau hampir 25%) tidak mempunyai pekerjaan. Kesengsaraan tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya penghasilan, tetapi untuk beberapa orang, juga oleh kehidupan dan keluarga yang porak-peranda.

PENUNDAAN PEMBELIAN BARANG
Siklus-siklus bisnis dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan jumlah penjualan barang-barang yang berlangsung beberapa tahun karena penundaan pembelian barang-barang itu melalui pemeliharaan dan perbaikan tambahan terhadap barang-barang tadi. Barang-barang yang dapat ditunda pembeliannya adalah biasanya barang yang tahan lama dan modal baru.

Pembelian sebuah mobil paling sering ditunda ketika dirasakan ketidakpastian akan kondisi di tempat pekerjaan. Jika masalah berhasil diatasi, cicilan bulanan dapat dibayarkan kembali, dan mobil itu dapat kembali dimiliki.

PENGANGGURAN
Pengangguran adalah tenaga kerja yang mencari lowongan dan tak berhasil menemukannya. Biaya pengangguran dapat diukur dari kekurangan hasil keluaran (output) yang potensial dari suatu negara: baik produksi yang hilang juga hilangnya penghasilan dan konsumsi dari barang-barang yang dibutuhkan. Biaya yang tidak berwujud tetapi lebih signifikan adalah kehilangannya nilai-nilai sosial dan kebudayaan dari mereka yang tidak dapat memainkan peran yang aktif dalam masyarakat.

Sebagian orang menganggur karena pemecatan dan sebagian lagi adalah orang-orang yang baru memasuki dunia tenaga kerja, seperti anak-anak muda yang baru lulus dan wanita yang baru mencari kerja untuk pertama kalinya.

PENGANGGURAN FRIKSIONAL
Pengangguran friksional mencerminkan pekerja-pekerja yang berganti pekerjaan untuk posisi yang lebih produktif dan dengan gaji yang lebih tinggi. Mobiltas pekerjaan seperti itu adalah suatu hal yang di-inginkan karena hal ini menjamin bahwa tenaga kerja digunakan dengan lebih effisien dan mendapatkan pendapatan yang lebih baik.

Terutama di Amerika Serikat, adalah suatu hal yang umum jika pegawai mencari pekerjaan pada perusahaan yang lain, jika kondisi-kondisi kerja atau gaji pada perusahaannya saat itu tidak memuaskan mereka. Pada beberapa hal, perubahan pekerjaan ini adalah sesuatu hal yang diinginkan karena pekerja-pekerja ini dapat menggunakan keahlian mereka dengan lebih baik.

PENGANGGURAN STRUKTURAL
Pengangguran strukutural disebabkan oleh perubahan-perubahan di berbagai sektor ekonomi. Perubahan kondisi yang berkesinambungan di berbagai industri disebabkan oleh cita rasa konsumen yang berubah dan merupakan bagian dari masyarakat yang berubah. Oleh karena pengangguran struktural ini dapat dikurangi dengan cara pelatihan kembali, pada umumnya hal ini merupakan hal yang diinginkan karena merefleksikan suatu masyarakat yang mencari perbaikan-perbaikan dalam produk-produknya.

Pada pertengahan tahun 1980 penurunan harga minyak menyebabkan usaha-usaha yang berhubungan dengan minyak (terutama di Texas) menjadi tidak menguntungkan lagi. Beberapa proses pemboran dan eksplorasi minyak dikurangi dan pegawai-pegawainya dipecat. Pegawai-pegawai tersebut dapat digolongkan sebagai bagian dari pengangguran struktural dari negara tersebut.

PENGANGGURAN SIKLIS
Pengangguran siklis berasal hanya dari defisiensi dalam aktivitas ekonomi. Bentuk pengangguran ini sangat tidak dikehendaki sebab hal ini dapat dihindari.

Pengangguran selama masa depresi besar di tahun 30-an, adalah suatu pengangguran siklis. Setiap orang mencoba mempertahankan pekerjaannya: pengangguran friksional merupakan hal yang tidak mungkin disini.Pengangguran struktural juga tidak terlihat disini dibandingkan dengan pengangguran yang disebabkan oleh ketakutan orang-orang untuk membelanjakan uang mereka dan oleh perusahaan-perusahaan yang dipaksa untuk mengurangi hasil keluarannya (output).

TINGKAT PENGANGGURAN
Tingkat pengangguran di Amerika Serikat diukur melalui survei melalui telepon pada keluarga-keluarga dimana dari hasilnya dapat dihitung proporsi dari tenaga kerja yang secara aktif mencari kerja dan tidak berhasil mendapatkannya. (Di negara lain, statistik dibuat berdasarkan orang-orang yang terdaftar sebagai pencari pekerjaan di departemen tenaga kerja: dengan demikian perbandingan secara internasional dapat menghasilkan data yang kurang akurat). Tingkat pengangguran dapat terkena distorsi oleh tenaga kerja tidak penuh (kerja paruh waktu), pekerja-pekerja yang patah semangat dan ekonomi bawah tanah.

Beberapa negara mengukur tingkat pengangguran dengan menggunakan perbandingan dari mereka yang mendaftarkan diri sebagai pencari kerja atau menganggur. Metode survei (untuk menghitung mereka yang mencari kerja) yang digunakan di Amerika Serikat kelihatannya lebih baik karena beberapa orang dapat saja mendaftarkan diri sebagai pencari kerja sementara masih bekerja tapi “tidak dimasukan dalam pembukuan”.

PEKERJA YANG TIDAK BERSEMANGAT
Adanya pekerja-pekerja yang tidak bersemangat menyebabkan tingkat pengangguran kurang mencerminkan pengangguran yang sebenarnya. Ini terutama merupakan masalah pada masa resesi karena pekerja-pekerja yang tidak bersemangat lagi ini akan meninggalkan pekerjaannya.

Disebabkan oleh kekurangan keahlian atau cacat, sebagian orang akan sulit mendapatkan pekerjaan penuh waktu tidak peduli seberapa giatnya mereka mencari pekerjaan. Sebagian orang mungkin karenanya akan menyerah untuk mencari pekerjaan. Orang-orang ini juga masuk dalam kategori pekerja yang tidak bersemangat.

TINGKAT PENGANGGURAN ALAMI
Tingkat pengangguran alami berhubungan dengan kombinasi dari pengangguran friksional dan struktural yang tidak dapat dihindari pada tingkat ekonomi yang sangat tinggi. Tingkat pengangguran alami ini menurut sejarah berkisar sekitar 4% tetapi pada tahun-tahun belakangan ini meningkat karena perubahan-perubahan di lapangan tenaga-kerja, yang sekarang mengikutkan tenaga kerja wanita dan orang muda (yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencari kerja).

Perubahan-perubahan dalam selera konsumen atau metode produksi adalah sebab utama dari perubahan-perubahan struktural di dalam ekonomi kita. Perubahan-perubahan ini terjadi di sepanjang waktu. Beberapa pengangguran struktural tidaklah dapat dihindarkan. Beberapa pengangguran friksional malah merupakan suatu hal yang diharapkan. Jika pada kedua jenis pengangguran ini ditambahkan orang-orang yang mencari kerja untuk pertama kalinya, maka jelaslah bahwa pada setiap saat selalu ada sejumlah orang yang mencari pekerjaan.

BIAYA PENGANGGURAN
Terdapat biaya ekonomis maupun non-ekonomis dari pengangguran. Biaya ekonomis utama adalah penadapatan dan hasil keluan (output) yang hilang, yang dinyatakan dalam selisih GNP (GNP gap). Hukum Okun digunakan untuk menentukan selisih GNP dengan rumus berikut: untuk setiap 1% kelebihan tingkat pengangguran yang aktual dari tingkat penangangguran alami, terjadi 2.5% selisih GNP. Biaya pengangguran yang lain adalah fakta dimana akibat kerugian dari pengangguran tidak didistribusikan dengan sama rata: selama periode resesi para buruh dan kaum minoritas didapati tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibanding pada golongan masyarakat lainnya.

BIAYA PENGANGGURAN                                                                                                                              Biaya non-ekonomis cenderung tinggi selama pengangguran siklis. Pengangguran dapat menyebabkan perpecahan keluarga, kehilangan pekerjaan dan keahlian, kehilangan rasa percaya diri, keresahan sosial, gangguan jiwa, kenaikan kriminalitas, dan penurunan moral. Sejarah penuh dengan contoh-contoh dimana pengangguran yang parah telah membawa kekerasan sosial dan perubahan-perubahan politik.

INFLASI
Inflasi adalah suatu pola kenaikan harga yang meluas ke mana-mana. Tingkat inflasi sama dengan tingkat perubahan indeks harga seperti indeks harga konsumen (CPI). Dalam sejarah, tingkat inflasi yang mendekati atau melebihi 10% dianggap inflasi yang serius.

Pergi ke toko dan mendapatkan kenaikan harga adalah inflasi. Bagi beberapa negara penduduknya terbiasa dengan nilai inflasi yang sangat tinggi: melebihi 100%, yang berarti harga akan menjadi dua kali lipat dalam setahun.

DEFLASI
Deflasi adalah pola penurunan harga yang meluas ke mana-mana. Dalam sejarah, deflasi adalah hal yang kurang umum dibanding dengan inflasi, tetapi hal yang lebih ditakuti dari deflasi adalah hilangnya pendapatan dari sejumlah besar perusahaan yang dapat menyebabkan kebangkrutan dan menurunnya aktivitas ekonomi (misalnya seperti yang terjadi pada periode depresi besar di tahun 1930-an).

Periode-periode deflasi adalah kejadian yang jarang ditemui di kebanyakan negara. Selama periode depresi besar di tahun 1930-an, harga-harga memang menurun. Konsekuensinya sangat menghancurkan: banyak perusahaan-perusahaan yang menghentikan bisnisnya karena kekurangan pendapatan.

INFLASI TARIKAN PERMINTAAN
Satu hal yang mungkin dapat menjelaskan penyebab inflasi adalah kelebihan permintaan yang berlebihan dari sisi konsumer sementara perusahaan-perusahaan tidak dapat menambah hasil keluarannya diatas kapasitas produksi yang ada. Hal ini disebut sebagai inflasi tarikan permintaan

Pada akhir tahun 1960-an, Amerika Serikat mengalami suatu periode dengan aktivitas ekonomi sangat tinggi yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang di seluruh negeri dan perang Vietnam. Perusahaan-perusahaan tidak dapat menambah produksi mereka, sedang pelanggan sangat bersemangat untuk membeli lebih banyak barang dengan penghasilan mereka yang tinggi. Periode ini disebut sebagai periode inflasi tarikan permintaan.

INFLASI DORONGAN BIAYA
Penyebab umum dari kenaikan harga adalah kenaikan biaya. Misalnya permintaan-permintaan dari serikat buruh akan kenaikan gaji dapat disebut sebagai inflasi dorongan gaji. Pada saat yang lain, kenaikan harga komoditas merupakan penyebab inflasi, misalnya pada masa krisis minyak di tahun 1970-an.

Krisis minyak pada tahun 1979-1980 menyebabkan harga minyak melonjak secara drastis pada awal tahun 1980-an. Kenaikan biaya energi ini dibebankan pada konsumen melalui kenaikan harga. Secara garis besar periode inflasi ini mempunyai sifat inflasi dorongan biaya.

MENGUKUR TINGKAT INFLASI
Tingkat inflasi biasanya diukur melalui indeks harga konsumen (CPI). Indeks harga konsumen melaporkan tingkat harga umum dari sejumlah keranjang dengan 300 barang dan jasa. Juga indeks ini menyatakan rasio dari harga-harga pada tahun yang tertentu dibagi dengan harga-harga dari sekeranjang barang dan jasa yang sama pada tahun dasar yang sama. Indeks tahun dasar ditetapkan pada nilai 100. Jadi rumus tingkat inflasi pada suatu tahun adalah: (indeks tahun itu – indeks tahun sebelumnya)/indeks tahun sebelumnya.

PERATURAN 70                                                                                                                                               Peraturan 70 digunakan untuk menentukan berapa waktu yang dibutuhkan sampai harga-harga menjadi dua kali lipat dengan tingkat inflasi saat itu. Jumlah tahun dimana harga-harga menjadi dua kali lipat ditentukan kemudian dibagi dengan 70 pada tingkat inflasi tahunan. (Peraturan 70 dapat juga digunakan untuk menentukan berapa lama tabungan atau GNP menjadi dua kali lipat).

EFEK RESTRIBUSI INFLASI
Efek inflasi (bila tidak diantisipasi) adalah redistribusi kekayaan dan pendapatan dari para penabung dan mereka yang memiliki pendapatan tetap kepada peminjan uang (debitur) dan mereka yang memiliki pendapatan variabel. Hal ini terjadi karena daya beli jumlah uang yang tetap menurun, dan karena para debitur membayar kembali hutang-hutangnya pada krediturnya dalam nilai dolar yang lebih murah.

Seorang debitur yang membayar suku bunga yang lebih rendah dari tingkat inflasi, sebenarnya membayar kembali lebih sedikit dalam ukuran daya beli pada krediturnya daripada jumlah yang dia pinjam. Debitur mendapatkan untung dan kreditur rugi selama tingkat suku bunga tidak disesuaikan dengan tingkat inflasi.

PENDAPATAN RIIL
Pendapatan riil adalah pendapatan nominal yang disesuaikan dengan tingkat inflasi. Misalnya, suku bunga riil sama dengan suku bunga nominal dikurangi tingkat inflasi.

Apa yang sebenarnya dapat dibeli oleh suatu penghasilan dihitung dalam kuantitas barang-barang dan jasa-jasa, juga disebut daya beli, adalah pendapatan riil. Jika harga-harga naik sementara pendapatan tidak berubah, makin sedikit yang dapat dibeli.

INFLASI YANG DIANTISIPASI
Jika inflasi diantisipasi secara penuh, efek redistribusi dari inflasi tidaklah ada. Ini dapat dicapai dengan penyesuaian biaya hidup terhadap pendapatan untuk mengimbangi kehilangan daya beli, dan indeksasi tingkat suku bunga nominal (yaitu menambah suku bunga nominal dengan tingkat inflasi). Kekurangan dari penggunaan berbagai cara untuk mengantisipasi inflasi adalah bahwa hal ini memperpanjang inflasi.

Pada tahun 1980-an, suku bunga variabel untuk hipotik menjadi sangat populer. Baik debitur, yaitu pihak pembeli rumah, dan kreditur, yaitu bank-bank, dapat menikmati hasil dari pengaturan tersebut. Dengan suku bunga yang diikat (atau di-indeksasi) terhadap inflasi, pembeli rumah melihat cicilan mereka berkurang jika inflasi sedang rendah. Tetapi bank-bank juga terlindung dari daya beli pembayaran yang menurun jika inflasi menjadi tinggi.

EFEK HASIL KELUARAN INFLASI
Tergantung dari beratnya, inflasi dapat memberikan pengaruh stimulatif yang ringan (disebut menabung secara paksa) atau pengaruh serius yang bersifat resesi (biasanya selama hiperinflasi). Umumnya, perubahan harga yang terus menerus membuat konsumen merasa tidak yakin berapa nilai produk-produk yang sebenarnya, dan ketidakpastian ini mengurangi banyaknya barang yang dibeli.

Dalam sejarah, periode-periode inflasi dikaitkan pada puncak-puncaknya kegiatan ekonomi. Harga produk-produk yang tinggi dan ketidak-pastian tentang nilai yang sebenarnya dari produk-produk seharusnya, atau telah di-identifikasikan sebagai sebab dari penurunan pembelian barang di tahun 1970-80 yang berinflasi di Amerika Serikat. Tetapi, beberapa negara dapat mengatur untuk memperbaiki tingkat inflasi yang tinggi.

EFEK HASIL KELUARAN INFLASI
Pada kasus inflasi ringan (4-6% per tahun), pendapatan tambahan di atas biaya bagi kebanyakan perusahaan memberikan kesempatan untuk membuka investasi baru yang bersifat ekspansi. (Ini disebut sebagai tabungan paksaan).

HIPERINFLASI
Hiperinflasi adalah suatu bentuk inflasi yang paling berat dan merusak. Ketika nilai uang berkurang dengan demikian cepat sehingga uang berhenti berfungsi sebagai alat tukar, ekonomi kembali ke sistem barter dan aktivitas ekonomi berhenti. Bahaya semacam itu juga dapat terjadi pada tingkat inflasi menengah karena dugaan akan adanya inflasi dapat menyebabkan efek spiral dari dorongan biaya dan tarikan permintaan yang akhirnya menyebabkan hiperinflasi. Namun beberapa negara dapat mengatur negaranya walau dengan tingkat inflasi yang tinggi.

Contoh klasik hiperinflasi terjadi di negara Jerman selama tahun 1920-an. Dilaporkan bahwa uang kehilangan begitu banyak nilainya sehingga dibutuhkan uang dengan berat yang lebih besar dibanding dengan berat barang yang dibelinya. Tidaklah mengherankan bila orang pada keadaan ini akan sebisanya menghindarkan penggunaan uang dalam transaksi mereka.

 

 

Review Quiz

Assignments

[Pendapat Anda adalah penting bagi kami. Jika Anda mempunyai komentar, koreksi atau pertanyaan tentang bab ini, silahkan kirim pada comments@peoi.org .]

;Previous: National_income_accounting

 Next: Classical_vs_Keynesian