© 1991 John Petroff - 2007 Yuli Hastadewi

 

Bab 10:

PERSEDIAAN

 

persediaan dan laporan keuangan

Persediaan biasanya merupakan aktiva lancar terbesar dari suatu perusahaan, dan diperlukan pengukuran yang tepat untuk menjamin laporan keuangan yang akurat.  Jika persediaan tidak dihitung secara tepat, pengeluaran dan penerimaan tidak dapat dicocokkan secara benar.  Jika persediaan akhir tidak benar, maka hasilnya adalah saldo-saldo dari neraca berikut ini uga tidak akan benar: persediaan barang dagangan, total aktiva, dan ekuitas pemilik modal.  Ketika persediaan akhir tidak benar, harga pokok penjualan barang dagangan dan laba bersih juga akan tidak benar di dalam laporan laba rugi.

 

sistem akuntansi persediaan

Dua sistem akuntansi persediaan yang paling sering digunakan secara luas adalah periodik dan perpetual.  Sistem persediaan perpetual memerlukan catatan akuntansi untuk menunjukkan jumlah persediaan yang ada di tangan di setiap waktu.  Sistem ini menggunakan akun yang terpisah dalam buku besar pembantu untuk masing-masing persediaan barang, dan akun tersebut diperbaharui setiap kali kuantitasnya bertambah atau diambil keluar.  Dalam sistem persediaan periodik, penjualan dicatat saat penjualan tersebut terjadi tetapi persediaannya tidak diperbaharui.  Pemeriksaan persediaan fisik harus dilakukan pada akhir tahun untuk menentukan harga pokok penjualan.  Tanpa melihat sistem akuntansi persediaan apa yang digunakan, adalah baik sekali untuk melakukan pemeriksaan persediaan fisik sedikitnya sekali setahun.

 

menentukan kuantitas persediaan & Biaya

Seluruh barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan (baik secara fisik ada atau tidak di perusahaan tersebut), termasuk dalam persediaan ketika suatu persediaan diambil.  Ini memerlukan pemeriksaan seluruh dokumen-dokumen pengiriman dan mengidentifikasi seluruh pengiriman barang dagangan yang keluar.  Menentukan kuantitas barang di tangan harus dilakukan sedikitnya oleh dua orang, dan orang ketiga harus memeriksa ketepatan dari perhitungan tersebut (terutama jika barang-barang yang mempunyai nilai moneter yang tinggi).  Ketika menentukan harga pokok penjualan, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya dimasukkan dalam harga pembelian.

 

metode pembiayaan persediaan - periodik

Sistem periodik hanya mencatat penerimaan setiap kali penjualan dilakukan.  Untuk menentukan harga pokok penjualan, suatu pemeriksaan persediaan fisik harus dilakukan.  Metode pembiayaan persediaan yang umumnya paling digunakan adalah

1)- masuk pertama, keluar pertama (FIFO),

2)- keluar terakhir, masuk pertama (LIFO), dan

3)- biaya rata-rata atau biaya tertimbang rata-rata.

 Metode-metode ini memperlihatkan hasil-hasil yang berbeda karena aliran biayanya didasarkan pada asumsi-asumsi yang berbeda.  Metode FIFO mendasarkan aliran biayanya atas urutan kronologis dimana pembelian dilakukan, sedangkan metode LIFO mendasarkan aliran biayanya dalam urutan kronologis yang sebaliknya.  Metode biaya rata-rata memperlihatkan suatu aliran biaya yang berdasarkan rata-rata tertimbang dari biaya-biaya unit.

 

membandingkan metode-metode pembiayaan persediaan

Pilihan metode pembiayaan persediaan mempengaruhi saldo dari

1)- persediaan akhir,

2)- harga pokok penjualan, dan

3)- laba kotor dan bersih.

Pada waktu periode kenaikan harga, metode FIFO biasanya menghasilkan persediaan akhir yang lebih besar, harga pokok penjualan yang lebih kecil dan laba yang lebih besar.  Selama periode kenaikan harga, metode LIFO menghasilkan persediaan akhir yang lebih kecil, harga pokok penjualan yang lebih besar dan laba yang lebih kecil.  Pada waktu periode penurunan harga, pengaruh kedua metode tersebut adalah berlawanan.  Metode rata-rata biaya memperlihatkan hasil yang berada diantara metode LIFO dan FIFO.

 

menggunakan metode non-biaya untuk menilai persediaan

Dalam keadaan tertentu, penilaian persediaan berdasarkan biaya adalah tidak praktis.  Jika harga pasar dari suatu barang jatuh dibawah harga pembelian, maka semakin rendah biaya atau penilaian metode pasar yang direkomendasikan.  Metode ini mengizinkan penurunan dalam nilai persediaan untuk diimbangi dengan pendapatan dari periode tersebut.  Ketika barang menjadi rusak atau usang, dan hanya dapat dijual dibawah harga pembelian, mereka harus dicatat pada nilai bersih yang dapat dicapai.  Nilai bersih yang dapat dicapai adalah perhitungan harga penjualan dikurangi dengan biaya apapun yang diadakan untuk membuang barang tersebut. 

 

sistem persediaan periodik vs. perpetual

Terdapat perbedaan yang mendasar untuk akuntansi dan pelaporan transaksi persediaan barang dagangan dengan sistem persediaan periodik dan perpetual.  Untuk mencatat pembelian, sistem periodik mendebit perkiraan Pembelian sedangkan sistem perpetual mendebit perkiraan Persediaan Barang Dagangan.  Untuk mencatat penjualan, sistem perpetual memerlukan ayat jurnal tambahan untuk mendebit Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan Barang Dagangan.  Dengan mencatat harga pokok penjualan untuk setiap penjualan, sistem persediaan perpetual mengurangi kebutuhan akan ayat jurnal penyesuaian dan perhitungan harga pokok penjualan pada akhir periode keuangan, keduanya yang mana diperlukan oleh sistem persediaan periodik.

 

metode pembiayaan persediaan - perpetual

Sistem persediaan perpetual memerlukan buku besar persediaan yang terpisah untuk mengurus masing-masing barang.  Buku besar persediaan menyediakan informasi terperinci mengenai pembelian, harga pokok penjualan, dan persediaan di tangan.  Setiap kolom memberikan informasi mengenai kuantitas, biaya unit, dan biaya total.  Ketika metode rata-rata biaya digunakan, rata-rata biaya unit masing-masing barang dihitung setiap kali pembelian dilakukan.  Keuntungan dari system persediaan perpetual adalah tingkat pengendalian yang tinggi, yang membantu manajemen untuk tingkat persediaan yang tepat, dan pemeriksaan fisik persediaan dapat dibandingkan dengan mudah.  Kapanpun kekurangan (misalnya barang hilang atau dicuri) ditemukan, perkiraan Kekurangan Persediaan harus didebitkan.

 

metode yang digunakan untuk menghitung biaya persediaan

Dalam operasi bisnis tertentu, melakukan pemeriksaan persediaan fisik adalah tidak mungkin atau tidak praktis.  Dalam situasi tersebut, maka perlu untuk menghitung biaya persediaan.  Dua metode yang sangat populer adalah

1)- metode persediaan eceran, dan

2)- metode laba kotor (atau marjin kotor).

Metode persediaan eceran menggunakan biaya untuk rasio harga eceran.  Pemeriksaan fisik persediaan dinilai secara eceran, dan kemudian dikalikan dengan rasio biaya (atau persentase) untuk menentukan biaya perkiraan dari persediaan akhir. Metode laba kotor menggunakan rata-rata marjin laba kotor tahun-tahun sebelumnya (misalnya penjualan dikurangi harga pokok penjualan dibagi dengan penjualan).  Laba kotor tahun sekarang dihitung dengan cara mengalikan penjualan tahun sekarang dengan marjin laba kotor, sedangkan harga pokok penjualan tahun sekarang dihitung dengan cara mengurangkan laba kotor penjualan, dan persediaan akhir dihitung dengan cara menambahkan harga pokok penjualan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual.

 

Review Kuis

Tugas-tugas

[Pendapat anda penting bagi kami. Jika ada saran, perbaikan, atau pertanyaan
sehubungan dengan bab ini silahkan dikirim ke comments@peoi.org .]

 Previous: Piutang

 Next: Aset Tetap